Cari Blog Ini

Sabtu, 21 Juli 2012

saling berbagie

Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"
Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"
Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.
Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.
Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!"

Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"
Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.
Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya.
Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!"

Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:
"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!
Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.
Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah." 

Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu!


Sumber Alhikmah

tidung island

Pulau ini sudah didiami penduduk sejak zaman penjajah Belanda. Dalam buku Sejarah Djakarta, disebutkan bahwa ketika Fatahillah menyerbu Malaka, beliau dan pasukannya memanfaatkan pulau-pulau yang ada di Teluk Jakarta sebagai tempat mengatur strategi. Salah satu pulau itu diberi nama Pulau Tidung, artinya pulau tempat berlindung.
Pulau Tidung adalah pusat Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Pulau ini dihuni oleh lebih dari 3.000 kepala keluarga. Sebagian besar penduduknya nelayan. Di sebelah timur pulau ini terdapat Pulau Tidung Kecil.  Kini kedua pulau ini tersambung oleh sebuah jembatan kayu yang sangat indah. Kita bisa menyusuri jembatan itu sambil melihat ke bawah laut yang bening dengan pemandangan karang-karang dan ikan yang beraneka warna. Di pulau ini dapat ditemui perkampungan penduduk dan beberapa warung yang menyediakan makanan dan minuman ringan, selanjutnya jalan setapak yang panjang ini ini akan melewati fasilitas umum, seperti kantor polisi, sekolah setingkat SMU untuk para pelajar dari pulau sekeliling, kumpulan warung dan menuju ke jembatan panjang yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dengan Pulau Tidung Kecil tanpa penduduk.

 * Kapal Muara Angke - Pulau Tidung  PP

* Penginapan 2 hari 1 malam ber AC 

* Makan sebanyak 3 kali secara prasmanan

* Barbeque ikan laut (makam malam)

* Peralatan Snorkling

* Sewa Perahu untuk snorkling 

* Sewa sepeda

* Guid

Jumat, 20 Juli 2012

                         belajar dari kehidupan   dimbil dari salah satu post di teman fb                                                                            :::: ANAKU CAHAYA HIDUPKU ::::
Sejak kecil ke dua anaku sudah menjadi piatu dengan berjualan krupuk di sebuah pasar kropyak aku pun berusaha memenuhi kebutuhan mereka.
hingga di saat mereka memasuki dewasa aku betul betul tidak mampu untuk membiayai ke dua putraku memasuki perguruan tinggi,
Tiba tiba di saat aku melamun putra sulungku pun mengahimpiri ku. "pak sudahlah aku gak usah sekolah,biar si bungsu yang meneruskan sekolahnya,aku ingin membantu bapak mencari biaya buat si bungsu." ujar si sulung aku pun meminta maaf sebagai orang tua aku tak sanggup membahagiakan mereka.

Beberapa tahun kemudian si bungsu sudah menjadi seorang dokter terkenal dan di tugaskan di luar negri,hatiku begitu bangga dengan kesukses nya itu,tp tidak dengan putra sulungku,karenasekolah terlalu rendah dia pun membuka usaha jualan krupuk di rumah dan keliling dari kampung ke kampung lain.

Hingga suatu saat telah terjadi sesuatu putra sulungku tertabrak mobil dri belakang dan kepala nya membentur keras ke aspal mengakibatkan dia mengalami kebutaan,hatiku sedih ingin aku membantunya mencari penambahan penghasilan tp umurku sudah 85 tahun,aku seorang kakek tua yang hanya bisa berbaring di kasur karena badan ini sudah tak sanggup untuk melakukan aktifitas sehari2.

Hingga soreh itu ku dengar putra bungsu ku datang dan berniat ingin membawaku ke luar negri dan merawatku,si sulung pun bersikeras dia masih mampu untuk merawatku dan keberatan jika aku di bawa ke luar negri.
Debat saudara itu pun berlanjut dan si bungsu berniat membawa ini ke pengadilan..

Hatiku menangis pilu kenapa semua ini terjadi ke dua anaku bertahan ingin merawatku bapak tua yang hanya bisa menjadi penghuni tempat tidur,

Persidangan pun di mulai aku melihat putra sulungku begitu sedih aku yakin dia akan berusaha untuk mempertahankan aku tetap tinggal bersama dia,persidangan demi persidangan mereka tetep bersikukuh untuk merawatku.
Aku berpikir anak bungsuku mampu membayar biaya pengacara tp bagimana si sulung,
Ya allah dengan membawa tongkat tiap pagi hari dia berangkat untuk menjual krupuk daganganya dia berusaha mencari biaya untuk menyewa pengacara karena takut hak asu jatuh ke tangan si bungsu.

Di kelanjutan persidangangan akhirnya pengadilan menyuruh aku datang menjadi saksi dan pak hakim pun bertanya padaku mau ikut siapa
"anak sulungku adalah mata kananku,anak bungsuku adalah mata kiriku,aku tak mau kehilangan sebelah mataku " ujarku..tampa ku sadari anak sulungku dan si bungsu datang memeluk aku mereka menangis dan selalu ucapkan terima kasih ke padaku,tk lupa pula ku ucap syukur di beri ke dua putra yang begitu menyangiku.
Dan keputusan hakim pun aku tetap di rawat putra sulungku,karena sekian tahun aku tinggal bersamanya.

Mendengar keputusan itu pun si bungsu menangis dan meminta maaf karena tak bisa merawatku,dan dia pun berjanji semua biaya aku dan kakanya dia yang menangung dan berniat mengobati mata kakaknya yang buta karena kecelakaan.

Air mata ini jatuh ku ucap syukur ke pada sang pencipta karen memberi ke dua putra yang begitu menyayangiku.
Jika anak orang lain bersitegang ke pengadilan karena harta warisan,tidak dengan putraku,mereka memperebutkan hak mengasuhku.

*APA YANG KITA TANAM SAAT INI INGATLAH KELAK KITA AKAN MEMETIK BUAHNYA.